+6221 7076 2687 ppmagabudhi@yahoo.com

Janganlah Iri

  1. Suatu kali terdapat antrian di depan teller sebuah bank. Antrian masih panjang dan sudah terasa membosankan, semua ingin cepat dilayani oleh teller. Tiba-tiba ada seseorang yang baru datang. Melihat orang itu, langsung salah satu pegawai bank datang menghampirinya dan mengajaknya ke suatu tempat untuk segera dilayani. Sepertinya, orang-orang yang sedang antri di depan teller, merasa iri dengan orang yang baru datang itu. Benarkah pantas untuk merasa iri?
  2. Alkisah, di sebuah keluarga petani terdapatlah dua ekor sapi kakak beradik yang bekerja keras setiap hari di ladang. Mereka menarik kereta penuh beban, apabila hasil pertanian akan dijual ke kota. Kembali dari kota mereka menarik kereta yang penuh dengan barang-barang yang dibeli si petani. Kerja mereka sungguh berat dan melelahkan.
  3. Bersama mereka terdapat seekor babi kecil yang diberi nama Munika, yang kerjanya hanya bermain sepanjang hari dan tidak pernah bekerja. Namun ia diberi makanan yang lezat seperti juga yang dimakan si petani dan keluarganya. Melihat hal itu si sapi yang lebih muda merasa iri dan berkata kepada kakaknya, “Kamu dan saya harus bekerja keras setiap hari, dan kita hanya diberi rumput dan jerami yang murah. Lihat babi itu, yang tidak pernah bekerja untuk keluarga ini. Ia diberi makanan yang terlezat. Mengapa ia diperlakukan jauh lebih istimewa daripada kita?”
  4. Kakak sapi yang bijaksana menjawab, ”Adikku, janganlah iri. Adalah tidak baik untuk iri kepada yang lain. Babi itu sesungguhnya makan ‘makanan kematian’. Kau tahu bahwa anak perempuan petani akan segera menikah dan tidak lama lagi akan diselenggarakan upacara pernikahan. Si babi akan disembelih untuk dijadikan santapan bagi tamu-tamu. Janganlah iri kepada Munika. Puaslah dengan makanan kita yang sederhana, yang akan memberi umur panjang dan kesehatan.”
  5. Hari pernikahan pun tiba, dan Munika disembelih untuk dijadikan hidangan bagi para tamu. Kakak sapi berkata, ”Kau lihat apa yang terjadi pada Munika?” Si adik sapi menjawab, ”Ya, kakak. Sekarang saya mengerti”.
  6. Berikut ini adalah kisah Bhikkhu Losakatissa. Pada jaman Buddha Kassapa, di sebuah vihàra tinggallah seorang bhikkhu dengan moral yang baik. Suatu hari seorang bhikkhu datang ke vihàranya dan meminta izin tinggal di sana untuk beberapa hari. Ketika bhikkhu tuan rumah melihat umat penyokong vihàranya menghormat bhikkhu tamu itu, ia menjadi iri hati
  7. Seorang umat penyokong vihàra mengundang kedua bhikkhu itu untuk makan di rumahnya pada keesokan harinya. Pagi-pagi keesokan harinya, bhikkhu tuan rumah mengetuk lonceng dengan jarinya dan kemudian pergi ke rumah umat tersebut. Ketika ditanya umat mengapa bhikkhu tamu tidak datang, bhikkhu itu menjawab, ”Bhikkhu itu sangat suka tidur sehingga ia tidak bangun ketika saya membunyikan lonceng. Jadi saya tinggalkan dia di vihàra.”
  8. Umat itu melayani bhikkhu dengan makanan yang baik. Kemudian umat itu memberi makanan untuk disampaikan kepada bhikkhu tamu. Dalam perjalanan pulang ke vihàra, bhikkhu tersebut berpikir,”Kalau bhikkhu itu mendapat makanan yang baik setiap hari, tentu dia tidak akan meninggalkan vihàra saya.” Karena rasa irinya itu maka ia membuang makanan itu dari mangkuknya ke tanah.
  9. Ketika sampai di vihàra, bhikkhu tamu sudah tidak ada lagi. Bhikkhu tamu itu telah mengetahui pikiran bhikkhu tuan rumah, maka ia pergi ke tempat lain dengan terbang di udara. Sesungguhnya ia adalah seorang Arahat yang telah terbebas dari segala sesuatu. Bhikkhu tuan rumah merasa menyesal, sejak itu ia merasa tidak bahagia, tidak bisa tidur dan makan dengan enak sepanjang hidupnya. Tidak lama kemudian ia meninggal dan terlahir kembali di alam neraka untuk menerima siksaan dalam waktu yang lama sekali.
  10. Setelah meninggal di alam neraka, ia terlahir kembali sebagai raksasa buruk muka dalam lima ratus kali kehidupan. Selama itu hanya dalam satu hari ia mendapat cukup makanan untuk dimakan, dan itu pun merupakan kotoran yang dikeluarkan oleh seekor rusa yang baru melahirkan di hutan.
  11. Kemudian untuk lima ratus kali kehidupan berikutnya terlahir sebagai anjing gelandangan yang kelaparan. Hanya satu kali ia mendapat cukup makanan untuk dimakan, itu pun berupa makanan muntahan yang ditemukannya di selokan. Akhirnya ia terlahir kembali sebagai manusia di rahim isteri seorang nelayan yang miskin.
  12. Sejak kehamilan itu maka para nelayan di kampung itu menjadi hidup menderita, dan ibu yang mengandungnya menjadi dikucilkan. Setelah ia terlahir, ibunya kesulitan untuk memberinya makan.  Ketika si anak sudah bisa berjalan dengan baik, si ibu memberinya mangkuk untuk mengemis dan meninggalkannya sendirian.
  13. Ketika anak itu berusia tujuh tahun, ia bertemu dengan Y.A. Sàriputta yang menahbiskannya menjadi seorang sàmaõera. Setelah cukup umur, dia ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu dengan nama Losakatissa. Ia berlatih meditasi dengan tekun sehingga menjadi seorang Arahat. Namun demikian ia tetap saja tidak mendapatkan makanan yang cukup setiap harinya.
  14. Pada hari ia akan mencapai Parinibbàna, ia pergi bersama dengan Y.A. Sàriputta untuk piõóapata. Mereka tidak mendapatkan makanan. Y.A. Sariputta memintanya kembali ke vihàra dan menunggu di sana. Y.A. Sàriputta pergi sendiri piõóapata dan sebuah keluarga mengundangnya untuk makan di rumah mereka.
  15. Y.A. Sàriputta meminta seseorang untuk mengirim makanan kepada Losakatissa. Di tengah jalan si pengantar makanan menjadi lapar dan lupa mengirim makanan itu, sehingga ia memakan makanan itu. Ketika Y.A. Sàriputta kembali ke vihàra, ternyata Losakatissa belum mendapat makanan. Y.A. Sàriputta pergi ke istana raja Kosala dan meminta makanan untuk Losakatissa berupa catumadhu yaitu makanan yang terdiri dari empat bahan: minyak wijen, sirup, madu, dan mentega.
  16. Setelah ke vihāra kembali, Y.A. Sàriputta memegang mangkuk itu dan membiarkan Losakatissa mengambil makanan dari mangkuk itu. Itulah satu-satunya saat sepanjang hidupnya Y.A. Losakatissa dapat makan hingga kenyang. Setelah makan, ia pun mencapai Parinibbàna. Kehidupannya sebagai bhikkhu yang bermoral di masa lalu membimbingnya mencapai tingkat Arahat, namun rasa irinya membuatnya hidup menderita dalam jangka waktu lama.
  17. Bagaimana menghilangkan rasa iri?Yang paling sederhana tentulah merenungkan bahwa meskipun ada orang lain yang mempunyai ‘kelebihan’ dibanding kita, tetapi jauh lebih banyak lagi orang-orang yang mempunyai ‘kekurangan’ dibanding kita. Banyak sekali orang di dunia yang hidup sengsara dan kekurangan makan. Belum lagi yang berada di tengah peperangan yang berkelanjutan, sewaktu-waktu bisa terluka parah atau tewas karena serangan senjata api atau bom. Kepada mereka, perlu dengan hati welas asih diberikan simpati dan bantuan.
  18. Selanjutnya adalah dengan merenungkan bahwa kelebihan yang dimiliki orang lain merupakan buah karmanya sendiri, dan apa yang kita miliki adalah buah karma kita, oleh karena itu puaslah dengan apa yang dimiliki dan tidak iri terhadap orang lain. Dalam Karaõãya Mettà Sutta dinyatakan:  Santussako ca subharo ca, merasa puas atas apa yang dimiliki dan mudah dirawat. Dalam Mahà Maïggala Sutta disebutkan: Santuññhi ca kata¤¤uta, merasa puas dan berterima kasih. Cåëakammavibhaïga Sutta menyatakan bahwa iri menyebabkan terlahir kembali dengan tubuh lemah dan memiliki sedikit pelayan.
  19. Sebagai penawar dari iri adalah mudità, berbahagia atas kebahagiaan orang lain. Kalau kebanyakan orang: susah melihat orang lain senang atau senang melihat orang lain susah, tapi mudità dapat dikatakan: senang melihat orang lain senang. Barang siapa yang mengembangkan mudita maka ia akan terlahir di alam dewa setelah kematiannya, dan bila terlahir sebagai manusia akan memiliki pengaruh, banyak pengikut dan kesehatan yang baik. Maka cobalah melaksanakan Mudità Bhāvanà. Meditasi ini merupakan meditasi yang membahagiakan. Bagi pemula hendaklah diawali dengan menujukannya kepada mereka yang dekat dengan kita, baru kemudian ditujukan kepada yang lebih jauh. Dan lakukanlah sering-sering, tentu akan tercapai kemajuan batin dan rasa iri akan berkurang.
  20. Sebetulnya juga kalau direnungkan, apa sih gunanya merasa iri? Orang yang iri akan merasa hidupnya susah memikirkan yang diirikan, lama-lama bisa menjadi stres dan akhirnya menimbulkan penyakit dalam badan. Di sisi lain orang yang diirikan tidak merasa apa-apa, tidak rugi apa-apa. Jadi apa gunanya?
  21. Kembali pada cerita antri di teller. Kalau melihat ada orang yang mendapat pelayanan langsung tanpa antri, ikutlah merasa bahagia atas kebahagiaannya, yang tidak ‘perlu’ antri. Ya barangkali orang itu memang kenal dengan pegawai bank itu, atau besar kemungkinannya ia adalah pelanggan yang menyimpan dana besar sehingga mendapat perlakuan khusus. Wajar saja bukan? Jadi, apabila kita melihat orang lain berbahagia, sukses, dan maju, janganlah iri tetapi doakanlah semoga ia bertambah bahagia, sukses, dan maju. Dengan demikian mudah-mudahan kita pun akan berbahagia, sukses, dan maju!
 Oleh : Pdt. Dr. Dharma K. Widya, M.Kes., Sp.Ak. (Bahan: Buddhist Tales for Young and Old  Karma Pencipta Sesungguhnya – Dr. Mehm Tin Mon)

Antara Berharap dan Harapan

1. Saat tahun baru, orang mengucapkan “Selamat Tahun Baru,Semoga tahun yang baru memberi kebahagiaan dan kesejahteraan  kepada kita semua“.  Banyak juga yang menetapkan  tujuan yang ingin dicapai dalam tahun yang baru.  Hal itu bermakna bahwa orang ‘berharap’ untuk dapat mencapai suatu ‘harapan’.  Bolehkah umat Buddha ‘berharap’ dan adakah ‘harapan’ dalam agama Buddha ?

2. Terlepas dari boleh tidaknya berharap, pada umumnya orang selalu berharap dalam melakukan atau berbuat sesuatu. Contoh yang sederhana  adalah dalam berdana. Orang yang tidak berdana berharap agar kekayaannya tidak berkurang karena dengan berdana maka ia pikir ia akan kehilangan sebagian kekayaannya. Sayangnya ia tidak tahu bahwa dengan berdana maka sebenarnya kekayaannya nantinya akan bertambah sebagai buah dari perbuatan berdana.

3.  Ada yang berdana dengan berharap agar orang-orang mengetahui bahwa ia suka berdana, berharap agar terkenal sebagai orang yang murah hati, setidak-tidaknya tidak dikenal sebagai orang yang kikir. Dana seperti itu tentu akan memberikan buah, namun barangkali tidak begitu bermakna. Lebih baik daripada berdana seperti itu adalah berdana dengan berharap akan mendapat buah yang menyenangkan di kemudian hari, menjadi lebih kaya atau terlahir kembali di alam surga. Harapan itu mudah-mudahan akan tercapai bila berdana dilakukan dengan tulus.

4.  Lebih baik lagi adalah apabila seseorang berdana dengan berharap bahwa dengan berdana maka rasa keakuannya akan berkurang. Berkurangnya rasa keakuan akan membuat seseorang menjadi lebih bahagia dan akan lebih mendekatkan dirinya kepada kebahagiaan tertinggi. Yang paling tertinggi tentu adalah apabila seseorang berdana tanpa berharap apa-apa, ada perbuatan berdana sebagai suatu hal yang seharusnya dilakukan tetapi tidak ada pandangan diri lagi tentang ‘siapa’ yang berdana. Bisakah kita ?

5. Banyak hal bermula dari berharap. Pada jaman dahulu kala hiduplah seorang yang berbudi luhur bernama Sumedha. Suatu kali ketika Buddha Dipankara akan datangke daerah tempat ia berdiam. Sumedha bertugas membersihkan jalan yang akan dilalui oleh Buddha Dipankara. Tetapi ada satu bagian jalan yang masih tergenang air ketika Sang Buddha akan melewati tempat itu.Agar kaki Sang Buddha tidak terkotori, dengan penuh bakti Sumedha merebahkan badannya di atas tanah tersebut untuk menjadi tempat pijakan Sang Buddha. Pada saat itulah ia berharapagar ia pun dapat menjadi Buddha seperti Buddha Dipankaraagar dapat mengajarkan Dhamma pada umat manusia.

6. Sang Buddha Dipankara dengan kekuatan batinnya melihat bahwa harapanSumedha pada suatu waktu akan tercapai. Maka Sang Buddha menyatakan bahwa Sumedha pada suatu waktu pun akan menjadi Buddha. Sejak saat itulah Sumedha menjadi seorang Bodhisatta (calon Buddha).Setelah melalui banyak sekali kelahiran dan pengorbanan  maka akhirnya Sumedha pun menjadi seorang Buddha, Buddha Gotama.

7. Ada cerita tentang seorang brahmana kerajaan Kosala bernama BāvarÄ«.  Setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya ia pergi ke selatan dan berdiam di sisi sungai Godavari. Ia sudah berusia 100 tahun ketika mendengar seorang Sammā Sambuddha berada di kerajaan Kosala. Ia mengirim enam belas siswa utamanya untuk memeriksa kebenaran berita tersebut. Setelah mencapai Savatthi, para siswa utama itu merasa puas dengan mengetahui bahwa Sammā Sambuddha sesungguhnyalah seorang Buddha.

8. Ketika salah seorang siswa memberi hormat dan menyampaikan salam atas nama gurunya yaitu Bāvarī , Sang Buddha Gotama memberikan pemberkahan dengan kata-kata sebagai berikut :

Sukhito Bāvarī hotu, sahasissehibrāhmaṇo;

Tvaṃcāpi sukhito hohi,

ciraṃjīvāhi māṇavo

9.  Artinya :

 May Brahmin BāvarÄ« be happy along with his disciples!
 May you also be happy,
O Brahmin apprentice!
May you live long!

Dengan kata-kata tersebut Sang Buddha menyampaikan harapan agar brahmana Bāvarīdan para siswanya berbahagia dan panjang umur.

10.   Ada juga kisah Pangeran Nanda yang berharap memperoleh dewi yang cantik.   Nanda adalah saudara tiri Buddha Gotama, yaitu putera Raja Suddhodana dan Pajapati Gotami. Pada hari pernikahannya, Sang Buddha membawanyake vihara dan menahbiskannya sebagai bhikkhu. Tetapi pikiran Nanda terbagi antara panggilan vihara dan tunangannya yang cantik. Dengan menggunakan kesaktian-Nya, Sang Buddha membawa Nanda ke surga Tavatimsa dan menunjukkan dewi-dewi  surga yang memiliki kecantikan tak tertandingi. Sang Buddha menjanjikan bahwa Nanda bisa memperoleh mereka bila menjalani kehidupan sebagai bhikkhu yang baik.

11.    Nanda kembali ke vihara dan bersedia melanjutkan kehidupannya sebagai bhikkhu. Tetapi ketika bhikkhu-bhikkhu lain mengolok-oloknya tentang tujuannya yang rendah, ia merasa malu dan berusaha sungguh-sungguh melatih diri sehingga mencapai tingkat kesucian tertinggi (Arahat). Sang Buddha menyatakan Nanda sebagai siswa utama dalam hal menjaga kemampuan inderanya.

12.   Harapan dalam bahasa Pali disebut Ä€sā, yang bermakna wish, desire, hope, longing. Asa merupakan langkah pertama Chanda.Chanda adalah keinginan yang tulus untuk berbuat atau mendapatkan sesuatu. Dapat berupa keinginan untuk mencapai Nibbana, menjadi siswa utama, raja, jutawan, dewa, berdana, menjalankan sila, berbuat kebajikan.Tentu harapan dan keinginan hanya dapat tercapai dengan viriya (semangat berusaha)

            Chandavato kim nāma kammaṁ  na sijjhati
           Dengan  keinginan yang tulus tidak ada yang tidak mungkin
           Asa phalavati sukha
           Harapan yang diikuti oleh upaya yang kuat membawa hasil yang baik dan kebahagiaan

13.   Ven. Nyanatiloka Mahathera menyatakan : “Sesungguhnya agama Buddha adalah ajaran yang memberikan harapan, penghiburan dan kebahagiaan, sekalipun untuk mereka yang paling tidak  beruntung. Suatu ajaran yang menawarkan harapan kesempurnaan dan kedamaian, tidak melalui keyakinan membuta atau doa, penyiksaan diri atau  upacara semata, tetapi dengan melaksanakan secara sungguh-sungguh Jalan Mulia Berunsur Delapan.”

14.   Sang Buddha menyatakan bahwa terdapat harapan bagi semua makhluk untuk mencapai kebahagiaan, sebagaimana terdapat dalam Udana  VIII,3 :

“Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak.

Duhai para Bhikkhu, apabila tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.

Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu”.

15.   Ada ungkapan harapan yang belakangan ini sering dipergunakan umat Buddha yaitu menuliskan BBU, singkatan dariBuddha Bless You yang berarti ‘Buddha memberkahimu’. Ada sedikit diskusi berkenaan dengan penggunaan idiom ini. Bagi yang setuju, dinyatakan bahwa kata Buddha memberikan kekuatan bagi si penerima kata-kata itu. Bukankah benih Buddha ada dalam diri setiap makhluk?

16.   Ada yang berpendapat,  Sang Buddha sudah mencapai Parinibbana dan sudah terlepas dari ‘ada dan tiada’, bagaimana mungkin ‘memberkahi’? Jadi diusulkan mempergunakan GKBU – Good Kamma Bless You. Mungkin juga membingungkan, bagaimana perbuatan baik dapat ‘memberkahi’? Ada yang mempergunakan ungkapan yang lebih umum seperti Sabbesattā bhavantusukhitattā – Semoga semua makhluk berbahagia (yang kalau disingkat menjadi SSBS atau SSMB). Singkatannya bisa agak membingungkan!

 17.   Mengucapkan Bless you merupakan kebiasaan yang sudah berusia ribuan tahun untuk mengharapkan kesehatan yang baik bagi seseorang yang baru saja bersin. Dulu orang percaya bahwa bersinakan mengakibatkan jiwa terlepas dari tubuh melalui hidung sehingga pengucapan Bless you adalah untuk mencegah hantu melakukan hal tersebut. Ada juga kepercayaan bahwa jantung akan berhenti sementara sementara ketika bersin dan mengucapkan Bless you merupakan cara untuk menyambut kembali orang tersebut kepada kehidupan. (The phrase “God bless you” is attributed to Pope Gregory the Great, who uttered it in the sixth century during a bubonic plagueepidemic – sneezing is an obvious symptom of one form of the plague). Di sisi lain Bless you dapat pula merupakan ungkapan rasa terima kasih seseorang kepada mereka yang telah berbuat baik kepada dirinya.

18.   Kalau kalimat semoga semua makhluk berbahagia bermakna terlalu luas karena mencakup harapan akan kebahagiaan pada semua makhluk, bagaimana kalau harapan itu ditujukan kepada mereka yang dituju? Bagaimana harus diungkapkan harapan agar ‘Semoga engkau berbahagia’? Untuk itu terdapat istilah Sukhi hotu (May you be happy). Barangkali kata ini dapat dipakai untuk menggantikan istilah di atas. Jadi kalau penulis ingin menutup tulisan ini dan berharap agar para pembaca berbahagia, penulis akan menuliskan Sukhi hotu. Dan dalam hati pembaca dapat menjawabnya dengan : “Sadhu” (yang berarti baik, setuju, semoga demikian – It is well, an expression showing appreciation or agreement).

 19.   Kalau begitu, kepada pembaca semua diucapkan : “Sukhi hotu ! Semoga anda berbahagia!”

Oleh Dharma K. Widya

 Sumber :

Abhidhamma sehari-hari – Ashin Janakabhivamsa
A Glossary of Pali and Buddhist Terms
http://dictionary.cambridge.org/dictionary/british/bless-you_2                                          
http://forumm.wgaul.com/showthread.php?t=66797
http://people.howstuffworks.com/sneezing.htm
http://www.vridhamma.org/Was-Buddha-pessimist
Sang Buddha Penunjuk Jalan Kebahagiaan)
 

Bahagia dalam konsep Agama Buddha

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk.

Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan  bendanya. Dhammapada I Yamaka-Vagga 2

Dipandang dari Agama Buddha, Kebahagiaan bukanlah berarti harta dan tahta. Agama Buddha mengajarkan bahwa sesungguhnya kebahagiaan itu adalah saat di mana seseorang bisa mengendalikan pikirannya.

Pikiran manusia sangatlah liar, bagaikan  seekor ikan yang dikeluarkan dari air dia akan selalu menggelepar, oleh karena itu Agama Buddha mengajarkan kita untuk bermeditasi agar manusia bisa mengendalikan pikiran dan meningkatkan kesadaran.

Secara garis besar kalau ditinjau dari bahasa mandarin kebahagiaan terbagi dua, yaitu

  1. 快乐(kuai le )块(kuai )diartikan cepat  ( 乐) le diartikan kebahagian, 快乐 bisa diartikan kebahagiaan atau kesenangan yang dirasakan sesaat, sangat cepat untuk dilupakan. Contohnya hiburan indrawi seperti nyanyian; tarian yang semata-mata kita nikmati sesaat itu saja.
  2. 安乐(an le ) 安(an)diartikan aman/tenang ( 乐) le diartikan kebahagiaan ,  安乐bisa diartikan kebahagiaan atau kesenangan yang bersifat aman dan tenang. Contohnya baca paritta dan meditasi yang bisa membuat batin dan pikiran kita bahagia, yang sifatnya lebih lama karena telah tertanam ke dalam batin.

Dari definisi di atas kita bebas memilih: kebahagiaan mana yang kita lebih perlu?, kebahagiaan sesaat atau kebahagiaan yang bisa ditanamkan di batin kita?

Mari bersama-sama kita praktikkan ajaran Sang Buddha supaya kita bisa memberikan kesenangan batin lewat ajaran-ajaran Beliau, bukan nyanyian ataupun tarian yang cuma memberikan kita kesenangan sesaat saja.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Dirangkum oleh PMd. Tonny Chew, pada awal April 2013.

Ucapan adalah karakter

“Janganlah berbicara kasar kepada siapa pun, karena mereka yang mendapat perlakuan demikian akan membalas dengan cara yang sama. Sungguh menyakitkan ucapan kasar itu, yang pada gilirannya akan melukaimu” Dhammapada X Danda-Vagga 133

Ucapan (komunikasi) adalah sesuatu yang harus dilakukan setiap hari untuk menyampaikan pesan. Pada jaman modern ini ucapan secara otomatis dapat dibagi menjadi 2 jenis:

1. Ucapan (komunikasi) melalui percakapan lisan

2. Ucapan(komunikasi) berupa pesan melalui media, contoh: SMS; BBM; YM dan lain sebagainya.

Karena perkembangan teknologi, jaman sekarang komunikasi banyak dilakukan melalui perangkat canggih, tetapi tetap saja merupakan salah satu cara komunikasi yang fungsinya adalah untuk menyampaikan pesan.

Sang Buddha telah mengajarkan Dhamma kepada kita, salah satu ruas atau aspek dari Majjhima Pattipada (jalan suci beruas delapan) adalah Sammavaca, yaitu Ucapan Benar = Perkataan Benar. Terkadang tanpa kita sadari, ucapan/kata-kata yang tidak berguna ataupun melukai orang lain pernah meluncur dari mulut kita.

Ucapan dari seseorang bisa mencerminkan karakter orang tersebut. Banyak sekali manusia memakai kata “karakter” untuk menutupi kekurangannya dalam hal ini, bila ditegur mereka akan menjawab: “itu karakter saya, tidak gampang untuk diubah, harap maklumlah, katanya”.

Tetapi apabila seseorang mengerti Dhamma, maka dia bisa berpikir dan merenungkannya bahwa ucapannya akan mencerminkan karakternya, dan kemudian dia pasti akan bisa mengendalikan ucapannya dan selalu memperhatikan apa yang akan diucapkannya.

Sungguh baik mengendalikan perbuatan, sungguh baik mengendalikan ucapan, sungguh baik mengendalikan pikiran, sungguh baik mengendalikan indria. Bagi kita yang bisa mengendalikannya akan bebas dari penderitaan.

Hendaklah memberikan ucapan yang sopan kepada mereka yang perlu dihormati atau lebih tua, hendaklah memberikan ucapan yang berguna bagi mereka yang lebih muda, hendaklah memberikan ucapan yang memberikan semangat kepada mereka yang anggap kita lebih tua.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata. Dirangkum oleh PMd. Tonny Chew, Tanjungpinang 17 April 2013.

Posisi Ajaran Cinta Kasih Dalam Agama Buddha

A.    Pendahuluan

Masih banyak manusia pada kehidupan sekarang tidak menggunakan cinta kasih (mettā) sebagai dasar dalam pelaksanaan aturan kemoralan. Cinta kasih (mettā) dirumuskan sebagai keinginan akan membahagiakan semua makhluk tanpa kecuali (Wowor, 2005: 76). Pengembangan cinta kasih (mettā) ditujukan kepada diri sendiri, orang lain, atau bahkan untuk semua makhluk.

Pembunuhan banyak terjadi. Salah satu penyebab pembunuhan adalah adanya kebencian atau rasa tidak suka terhadap orang lain maupun makhluk lain, misalnya binatang. Sebagai contoh, jika seseorang digigit nyamuk maka rasa benci terhadap nyamuk tersebut akan muncul dan menyebabkan seseorang membunuhnya, sedangkan kebencian adalah lawan dari cinta kasih. Pembunuhan telah menjadi salah satu fenomena kehidupan modern; peperangan, konflik ras, peternakan binatang untuk sekadar melayani kebutuhan pasar manusia akan daging, dan penggunaan insektisida yang berbahaya (Sivaraksa, 2001: 88). Pembunuhan merupakan suatu contoh di mana tidak adanya cinta kasih antarsesama, baik kepada orang lain maupun makhluk lain termasuk binatang. Adanya pembunuhan berarti ada pihak yang dirugikan dan menimbulkan penderitaan bagi makhluk lain. Pembunuhan menunjukkan tidak adanya kepedulian (cinta kasih) kepada sesama.

B.  Cinta Kasih sebagai Landasan Keharmonisan

Mettãadalah rasa persaudaraan, persahabatan, pengorbanan, yang mendorong kemauan baik, memandang makhluk lain sama dengan dirinya sendiri (Dhammasugiri, 2004: 21). Hal tersebut mencerminkan bahwa dengan melaksanakan cinta kasih maka akan dapat tercipta keharmonisan. Seseorang yang mengembangkan cinta kasih berarti mempraktikkan prinsip tanpa kekerasan. Kejahatan adalah sumber adanya ketidakharmonisan. Mettā adalah satu-satunya jawaban efektif bagi kekerasan dan penghancuran, baik dari senjata konvensional maupun peluru nuklir (Bogoda, 2003: 70). Seperti yang dialami Buddha sendiri ketika sedang bermeditasi kemudian diganggu oleh mara, dengan kekuatan cinta kasih panah dan lautan api tidak bisa melukai Buddha. Berdasarkan  AÅ„guttara Nikāya (Hare, 2001: 103) manfaat dari mengembangkan cinta kasih adalah tidak ada api, racun, maupun pedang yang dapat melukainya. Cinta kasih merupakan kekuatan dari dalam diri seseorang sebagai pencegah perbuatan buruk. Pengembangan cinta kasih bertujuan untuk memisahkan pikiran dari kebencian. Prinsip dari cinta kasih adalah tidak menyakiti, bebas dari rasa benci, dan permusuhan.

Sesuai dengan macam-macam cinta yang dikemukakan oleh Davids (1915: 159-162) yaitu adanya cinta keluarga dan saudara. Keharmonisan hendaknya tercipta sejak dalam lingkup keluarga. Hubungan antar anggota keluarga seharusnya didasari oleh cinta kasih. Setelah mengembangkan cinta kasih kepada keluarga, maka cinta kasih dikembangkan kepada sahabat atau teman. Keharmonisan akan terwujud dalam hubungan sahabat.  Keharmonisan dapat terwujud dengan adanya cinta kasih karena cinta kasih dirumuskan sebagai keinginan akan kebahagian semua makhluk tanpa kecuali. Setelah mengetahui manfaat dari cinta kasih maka akan dapat diketahui bahwa cinta kasih dapat membawa keharmonisan di masyarakat. Pengembangan cinta kasih terdapat unsur menghormati dan kepedulian kepada yang lain. Adanya saling menghormati dan saling peduli akan tercipta keharmonisan. Cinta kasih atau mettā sering dikatakan sebagai keinginan suci yang mengharapkan kesejahteraan dan kebahagiaan makhluk-makhluk lain, seperti seorang sahabat mengharapkan kesejahteraan dan kebahagiaan temannya (Wowor, 2005: 76). Adanya keinginan atau niat seseorang untuk kesejahteraan dan kebahagiaanorang lain maka akan menciptakan keharmonisan. Mettā menambah kemurahan hati pada sifat seseorang, memberikan keakraban, membebaskan diri dari kejengkelan dan selalu menimbulkan kegembiraan, keramah-tamahan serta tidak ada rasa permusuhan atau keinginan untuk menyakiti makhluk lain bahkan terhadap makhluk yang paling kecil sekalipun, yang biasanya disebabkan karena kebencian, kemarahan atau hanya karena iseng (Ñanasamvara, 2001: 15). Kebencian adalah lawan dari cinta kasih. Apabila dalam hubungan antara satu dengan yang lain tidak terdapat kebencian dan permusuhan maka dapat tercipta keharmonisan dan kedamaian dalam suatu masyarakat. Cinta kasih dapat menciptakan keharmonisan.

Seseorang dalam menjalani kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, keharmonisan sangat diharapkan. Untuk menciptakan keharmonisan maka diperlukan saling mencintai, saling menghormati, saling menolong, dan saling menghindari percekcokkan. Ada beberapa cara agar terwujud keharmonisan, salah satunya yaitu dengan mengembangkan cinta kasih. Berdasarkan Sārāņīyadhamma Sutta, AÅ„guttara Nikāya (Hare, 2001: 203) Buddha mengatakan kepada para bhikkhu bahwa apabila seseorang memiliki perbuatan, ucapan, dan pikiran yang disertai cinta kasih terhadap sesama, baik di depan atau pun di belakangnya, akan tercipta pengembangan cinta kasih. Pengembangan cinta kasih melalui perbuatan di antaranya dengan cara ringan tangan membantu sesama. Pengembangan cinta kasih dilakukan dengan kelembutan dan kasih, sehingga yang ada hanya rasa kasih, bahagia dan damai, baik memberi atau menerima pertolongan. Pengembangan cinta kasih melalui ucapan, diantaranya menghindari bicara kasar, memfitnah, omong kosong, dan berbohong. Bertutur kata yang ramah, sopan santun maka akan tercipta keceriaan, tidak akan ada pertengkaran, keributan, dan permusuhan. Kitab Dhammapada, Khuddaka Nikāya (Norman, 2004:1) menyatakan ”For not by hatred are hatreds ever quenched here, but they are quenched by non-hatred. This is the ancient.” Pengembangan cinta kasih melalui pikiran diantaranya dengan melatih pikiran untuk selalu menyertai dan melandasi pikiran dengan cinta kasih, sehingga akan terpancar melalui wajah sinar kasih yang mengalir setiap saat. Pada akhirnya tidak akan ada curiga, salah sangka, ingin menyakiti dan rasa benci.

Mettã merupakan sebuah kekuatan yang tidak hanya membawa kebahagiaan kepada dirinya sendiri tetapi juga untuk makhluk di sekitarnya (Janaka, 2003: 78). Untuk mempraktikkan cinta kasih, seseorang harus bebas dari sifat mementingkan diri sendiri. Siapa pun yang bertemu dengan orang yang memiliki kekuatan cinta kasih akan turut merasa bahagia, damai, dan tenteram. Cinta kasih merupakan kekuatan yang dihimpun dengan suatu pengharapan agar kebahagiaan dan kedamaian melingkupi seluruh kehidupan semua makhluk.

Pengembangan cinta kasih ditujukan kepada semua makhluk, misalnya kepada binatang, dan makhluk yang tidak tampak. Keharmonisan yang ditimbulkan dari pengembangan cinta kasih tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi keharmonisan manusia dengan binatang, dan keharmonisan manusia dengan makhluk halus atau makhluk tidak nampak. Contoh dari pengembangan cinta kasih antara manusia dengan binatang dan makhluk halus, yaitu tidak mengganggu antara makhluk yang satu dengan makhluk yang lain. Tidak mengganggu maka keharmonisan akan tercipta. Pengembangan cinta kasih tidak memandang makhluk apa pun, baik yang dikenal atau tidak, apakah makhluk tersebut tampak atau tidak, apakah makhluk tersebut adalah seorang musuh, atau seseorang yang sangat dicintai, atau bahkan makhluk tersebut adalah binatang. Kesemua jenis makhluk diberikan pancaran cinta kasih. Seperti yang terdapat dalam Mettā Sutta (Norman, 2001: 19) bahwa:

Whatever living creatures there are, moving or still without exception, whichever are long or large, or middle-sized or short, small or great, whichever are seen or unseen, whichever live far or near, whichever they already exist or are going to be, let all creatures be happy minded.

Cinta kasih tidak hanya menciptakan keharmonisan dalam hubungan keluarga, sahabat, maupun masyarakat tetapi dapat menciptakan keharmonisan dunia, yaitu keharmonisan antara manusia dengan alam sekitar, baik dengan makhluk halus atau bahkan binatang. Tidak akan ada kebencian di dalamnya. Cinta kasih bukanlah persaudaraan yang berdasarkan politik, ras, bangsa, atau pun agama (Wowor, 2005: 77). Cinta kasih dikembangkan tidak memandang kepada siapa pun. Cinta kasih yang dipancarkan bukanlah perasaan cinta atas nafsu, tetapi cinta kasih dikembangkan seperti yang disebutkan dalam Mettā Sutta (Norman, 2001: 19) yaitu:

Just as a mother would protect with her life her own son, her only son, so one should cultivate an unbounded mind towards all beings, and loving-kindness towards all the world. One should cultivate an unbounded mind, above and below and across, without obstruction, without enmity, without rivalry.

Perasaan cinta kasih yang dimiliki oleh seorang ibu bukan cinta yang didasarkan atas nafsu untuk memiliki, tetapi keinginan yang murni untuk menyejahterakan dan membahagiakan anaknya. Pengembangan cinta kasih yang dimiliki seorang ibu kepada anaknya yang tunggal adalah yang diharapkan dalam pengembangan cinta kasih kepada semua makhluk, yaitu pengembangan cinta kasih yang terwujud dalam keinginan sepenuh hati untuk menyejahterakan dan membahagiakan semua makhluk tanpa kecuali, dan cinta kasih dipancarkan ke segala penjuru, begitu pula ke atas, ke bawah, ke sekeliling, ke semua arah. Seperti yang dijelaskan dalam Vatthûpama Sutta, Majjhima Nikāya(Horner, 2000: 48) yaitu:

He dwells, having suffused the first quarter with a mind of friendliness, likewise the second, likewise the third, likewise the fourth; just so above, below, across; he dwells having suffused the whole world every way, with a mind of friendliness that is far-reaching, wide-spread, immeasurable, without enmity, without malevolence.

Mettā adalah niat baik, cinta kasih, cinta universal; suatu perasaan persahabatan dan perhatian tulus terhadap semua makhluk hidup, manusia atau bukan manusia dalam segala situasi. Tanda utama mettā adalah niat baik: keinginan kuat untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain. Mettā menundukkan kebencian dalam segala bayangannya: kemarahan, niat buruk, keengganan, dan dendam. Tidak adanya kemarahan, niat buruk, dan dendam maka kerukunan dan keharmonisan dalam masyarakat akan tercipta.

Berdasarkan Sārāņīyadhamma Sutta, AÅ„guttara Nikāya (Hare, 2001: 203) Buddha mengatakan kepada para bhikkhu bahwa apabila seseorang memiliki perbuatan, ucapan, dan pikiran yang disertai cinta kasih terhadap sesama, baik di depan atau pun di belakangnya. Hal tersebut yang membuat saling dikenang, dicintai, saling dihormati, dan menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiada-cekcokan, kerukunan, dan kesatuanApabila seseorang memiliki cinta kasih tidak akan mungkin menyakiti orang lain, karena prinsip dari pengembangan cinta kasih adalah mengharapkan makhluk lain bahagia. Seseorang akan menolong, membantu, dan membuat orang lain bahagia. Menolong orang lain merupakan praktik cinta kasih, karena cinta kasih adalah sesuatu kekuatan aktif. Setiap tindakan mencintai yang dilakukan dengan pikiran tak bernoda untuk menolong, membantu, menyenangkan, membuat jalan orang lain mudah, lebih halus, dan lebih sesuai penaklukan kesedihan, adalah kebahagiaan tertinggi (Dhammananda, 2004: 242). Membahagiakan orang lain, maka seseorang akan merasa bahagia, karena orang yang melakukan perbuatan baik akan mendapatkan akibat yang baik, sedangkan orang yang melakukan kejahatan akan menuai hasil dari perbuatan jahat. Berdasarkan Kitab Dhammapada, Khuddaka Nikāya (Norman, 2004: 19) dijelaskan bahwa: ”Not in the sky, not in the middle of the sea, not entering an opening in the mountains is there that place on earth where standing one might be freed from evil action.” Seseorang akan mendapatkan akibat dari segala sesuatu yang telah dilakukan baik atau pun buruk. Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebaikan, pembuat kejahatan akan mendapatkan kejahatan. Seseorang tidak dapat mengingkari sebuah akibat dari perbuatannya.

C. Cinta Kasih sebagai Landasan Kemajuan Batin

Cinta kasih adalah sifat luhur yang pertama dari empat macam sifat luhur (brahma vihāra). Sifat luhur yang lain yaitu kasih sayang, rasa simpati, dan keseimbangan batin. Keempat sifat luhur itu sering disebut pula sebagai keadaan tak terbatas (apamaññā). Pelaksanaan brahma vihāra dapat membuat seseorang menjadi mulia atau suci dalam kehidupan sekarang. Pengembangan cinta kasih dapat membawa kehidupan suci bagi seseorang. Cinta kasih merupakan sifat luhur dalam Agama Buddha yang dapat menghaluskan hati seseorang, atau rasa persahabatan sejati (Wowor, 2005: 76). Cinta kasih dapat menghaluskan hati seseorang berarti dalam kehidupannya seseorang tidak mungkin melakukan perbuatan yang dapat menyakiti makhluk lain. Seseorang akan terbebas dari rasa benci dan permusuhan.

Cinta kasih sangat diperlukan sebagai dasar mengembangkan kesucian seseorang untuk menciptakan masyarakat yang damai, maju, dan sehat (Walshe, 1996: 246).  Prinsip dari cinta kasih adalah mengharapkan makhluk lain bahagia, bebas dari penderitaan, kebencian, maka tercapai pikiran yang bebas dari kebencian. Pikiran yang terbebas dari kebencian berarti akan dengan mudah dapat mengembangkan pikirannya, karena kebencian adalah salah satu akar kejahatan yang dapat membawa seseorang menuju penderitaan. Seseorang yang mengembangkan cinta kasih berarti melenyapkan akar kejahatan, maka kebahagiaan akan terwujud.

Cinta kasih merupakan salah satu objek meditasi. Seseorang dapat mengembangkan cinta kasih melalui meditasi cinta kasih. Seseorang melaksanakan meditasi cinta kasih harus mengembangkan cinta kasih kepada dirinya sendiri. Setelah seseorang mengembangkan cinta kasih kepada diri sendiri maka selanjutnya cinta kasih dikembangkan kepada orang-orang yang dihormati dan dihargai, orang-orang yang sangat dicintai, orang yang netral, dan kepada musuh (Ñānamoli, 1991: 290).Pada akhirnya cinta kasih dikembangkan kepada semua makhluk tanpa batas. Setelah batin seseorang terpusat kepada objek pengembangan cinta kasih maka batin akan menjadi tenang. Batin atau pikiran seseorang akan bebas dari kebencian. Terbebas dari kebencian berarti seseorang telah mengalami kemajuan batin.Aţţhakanāgara Sutta, Majjhima Nikāya (Horner, 2002: 16) menyebutkan bahwa:

… a monk dwell having suffused the first quarter with a mind of friendliness; likewise the second, likewise third, likewise the fourth; just s o above, below, across; he dwells having suffused the whole world everywhere, in every way, with a mind of friendliness that is for-reaching. He reflects on this and comprehends: ‘This freedom of mind that is friendliness, is also effected an thought out. But whatever is effected and thought out, that is impermanent, it is liable to stopping. Firm in this … the attains the matchless security from the bonds, not (yet) attained.

Kebebasan pikiran cinta kasih diakibatkan karena pertimbangan yang sangat kuat. Tetapi, kebebasan pikiran cinta kasih yang telah dicapai adalah tidak kekal. Kebebasan pikiran cinta kasih dapat mencapai pembebasan atau paling tidak mencapai tingkat kesucian Anāgāmi. Anāgāmi adalah tingkat kesucian di mana seseorang telah mematahkan lima belenggu batin, yaitu sakkāyadiţţhi (pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa yang kekal), vicikicchā(keragu-raguan terhadap Buddha dan ajaran-Nya), silabataparāmāsa (kepercayaan pada upacara atau ritual dapat membebaskan manusia dari penderitaan),kāmarāga (nafsu indera), dan paÅ£igha (keinginan tidak baik) (Davids, 1992: 31). Seseorang mencapai tingkat kesucian Anāgāmi tidak akan terlahir kembali di alam manusia.Pengembangan cinta kasih akan membebaskan pikiran dari kebencian dan rasa permusuhan. Kebencian adalah salah satu akar kejahatan yang dapat membawa seseorang ke penderitaan. Apabila seseorang mengembangkan cinta kasih telah menjauhkan diri dari penderitaan, dan kebahagiaan akan tercapai. Kebahagiaan yang dicapai tidak hanya kebahagiaan pada kehidupansaat ini tetapi kebahagiaan di kehidupan yang akan datang. Seperti yang disebutkan dalam manfaat mengembangkan cinta kasih (Woodward, 2003: 219), meskipun seseorang belum mencapai Arahat tetapi dapat mencapai atau terlahir di alam Brahmā. Terlahir di alam Brahmā adalah suatu bukti bahwa kebahagiaan dari pengembangan cinta kasih tidak hanya terwujud pada kehidupan saat ini tetapi di kehidupan yang akan datang.     

D.  Kesimpulan

         Berdasarkan pembahasan mengenai “Posisi Ajaran Cinta Kasih dalam Agama Buddha”, dapat disimpulkan, bahwa:Cinta kasih merupakan keinginan akan kebahagiaan semua makhluk tanpa kecuali, yang sering dikatakan sebagai niat suci untuk mengharapkan kesejahteraan dan kebahagiaan makhluk lain. Cinta kasih merupakan sebuah kekuatan yang tidak hanya membawa kebahagiaan kepada para pelakunya, tetapi juga untuk para makhluk di sekitarnya. Hal tersebut dapat terjadi karena pengembangan cinta kasih ditujukan kepada semua makhluk tanpa kecuali. Sedangkan objek pengembangan cinta kasih yaitu: pertama kali cinta kasih dipancarkan kepada diri sendiri, setelah itu cinta kasih dipancarkan kepada orang-orang yang dihargai dan dicintai, orang netral, dan musuh. Pengembangan cinta kasih pertama kali harus ditujukan kepada diri sendiri, karena untuk dapat mengembangkan cinta kasih kepada orang lain atau makhluk lain harus memiliki cinta kasih kepada diri sendiri terlebih dahulu.

         Ajaran cinta kasih memiliki posisi yang amat penting dalam agama Buddha. Cinta kasih apabila dikembangkan dengan baik, maka akan menciptakan keharmonisan di alam semesta, yaitu keharmonisan antara manusia dengan binatang, binatang dengan tumbuhan, tumbuhan dengan manusia, atau bahkan keharmonisan antara makhluk satu dengan makhluk yang lain, misalnya makhluk yang tidak tampak (setan, dewa). Hal tersebut dikarenakan cinta kasih dipancarkan tidak hanya kepada sesama manusia tetapi kepada semua makhluk yang ada di alam semesta. Semua penghuni alam semesta saling membutuhkan dalam menjalani kehidupannya, sehingga cinta kasih sangat diperlukan. Selain sebagai landasan keharmonisan, cinta kasih dapat berfungsi sebagai landasan kemajuan batin. Cinta kasih merupakan salah satu objek meditasi. Melalui meditasi seseorang dapat membebaskan kebencian dalam batin, sedangkan kebencian adalah salah satu akar dari kejahatan. Jika seseorang membebaskan kebencian dari batinnya, maka batinnya telah mengalami kemajuan. Dengan adanya kebebasan pikiran cinta kasih dapat membawa seseorang mencapai tingkat kesucian Anāgāmi dan merupakan latihan tahap awal yang dilaksanakan manusia untuk mencapai kebahagiaan tertinggi (nibbāna).

SUMBER:    

Bogoda, Robert. Tanpa Tahun. Hidup Sederhana Hidup Bahagia. Terjemahan oleh Ida Dhammashanti. 2003. Jakarta: Yayasan Penerbit Karaniya.

Davids, T.W Rhys. (Ed). 1972. Pāli-English Dictionary. London: The Pali Text Society.

Davids, Rhys C.A.F. 1915. Encyclopedia of Religion and Ethics. Edinburg: T. & T. Clancle.

Davids, Rhys dan William Stede. 1992. The Pali Text Society Pāli-English Dictionary. Oxford: The Pali Text Society.

Dhammananda. Tanpa Tahun. Keyakinan Umat Buddha. Tejemahan oleh Ida Kurniati. 2004. Jakarta: Yayasan Penergit Karaniya.

Dhammasugiri. 2004. Konsep Cinta dalam Agama Buddha. Majalah Dhammacakka, hlm. 19-24.

Hare, E.M. (Ed). 2001. The Book of the Gradual Saying, vol III (AÅ„guttara Nikāya). Oxford: The Pali Text Society.

__________. 2001. The Book of the Gradual Saying, vol IV (AÅ„guttara Nikāya). Oxford: The Pali Text Society.

__________. 2001. The Book of The Discipline, vol. IV (SuttavibhaÅ„ga). Oxford: The Pali Text Society.

Janaka. Tanpa Tahun. Mettā Bhavana. Terjemahan oleh Samuel B. Harsojo. 2003. Tanpa Kota Terbit: Tanpa Penerbit.

Norman, K.R. 2001. The Group of Discourses (Sutta-Nipāta). Oxford: The Pali Text Society.

__________. 2004. The Word of the Doctrine (Dhammapada). Oxford: The Pali Text Society.

Ñanasamvara. 2001. SÄ«la-Kemoralan. Dhammasakaccha, hlm. 20-36.

Ñānamoli. (Ed.). 1991. The Path of Purification (Visuddhimagga). Sri Lanka: Buddhist Publication Society.

Sivaraksa, Sulak. 1992. Benih Perdamaian. Terjemahan oleh Ken Ken dkk. 2001. Jakarta: HIKMAHBUDHI.

Walshe, M. O’C. 1996. Buddhism and Sex. Kandy: The Wheel Publication No. 225.

Woodward, F.L. (Ed.). 2003. The Book of Gradual Saying, vol. V (AÅ„guttara Nikāya). Oxford: The Pali Text Society.

Wowor, Cornelis. 2005. Pandangan Sosial Agama Buddha. Semarang: Vihara Tanah Putih.

Availabilitas

Pada hari-hari belakangan ini, mungkin para pembaca sedang sibuk ikut memilih ketua RT atau ketua RW, Bupati atau bahkan sedang memilih Gubernur di tempat anda tinggal (seperti di Jawa Barat). Begitu pun di kantor, mungkin juga sedang memilih calon pimpinan perusahaan yang baru, setelah yang lama pensiun.

Secara umum, orang yang akan kita pilih sebagai pemimpin adalah orang yang kita kenal, kita tahu asal-usulnya, tahu karakternya, calon pemimpin itu haruslah orang yang mempunyai kemampuan (kapabilitas) atau orang yang bisa diterima oleh semua pihak (akseptabilitas).

Dua kriteria ini yaitu kapabilitas dan akseptabilitas, sangatlah penting dan mendasar, dan di dalam hati kita tentu saja sangat mengharapkan bahwa idealnya, calon yang kita ajukan minimal memiliki dua prasyarat tersebut.

Kalau di dalam ketentaraan, mungkin syarat utama sebagai pemimpinnya adalah orang yang mahir menembak, berpengalaman terjun payung atau mempunyai keahlian lainnya seperti misalnya ahli di bidang intel atau orang yang pandai ilmu bela diri. Begitu juga pemimpin pengeboran minyak di lepas pantai misalnya, yang dipilih biasanya adalah orang yang ahli di bidang itu (capable), dan bukan orang yang pandai bergaul seperti kita mencari seorang penyelia/supervisor.

Lain lagi kalau yang dibutuhkan adalah pengurus RT/RW, mungkin yang penting adalah orangnya bisa diterima oleh semua kalangan (acceptable). Sedangkan kemampuan dia untuk memanajemeni orang lain dan kemampuan lainnya seperti, bagaimana cara berbicara di depan umum dengan baik atau memimpin berbagai kegiatan, itu bisa dilatih nanti (kemudian).

Dua kriteria itu populer! Tapi selama ini saya melihat, di dalam organisasi sosial, ada satu prasyarat lagi yang menurut saya malahan lebih utama, sehingga saya mengusulkan agar ke depan, hal ini hendaknya diperhatikan, yaitu tingkat keberadaan pemimpin tersebut (availabilitas). Sebab, betapa mampu dan disukainya pun pemimpin tadi, tapi kalau tidak pernah hadir di tengah-tengah kita, ya sama juga bohong! Alias namanya saja ada tapi orangnya entah di mana? Maka bagaimana mungkin dia akan mengkoordinir segala pekerjaan, bagaimana bisa mengarahkan serta membimbing kita semua? Untuk itu, bila perlu sejak awal tanyakan dulu kesanggupannya/kesediaannya untuk bekerja sosial bersama kita, secara sungguh-sungguh dan bukan basa-basi semata.

Sampai di sini saya menulis, terhenti sebentar, saya menerima telpon dari kawan saya yang bercerita bahwa dia baru saja ketemu dengan seorang teman yang berganti baju, alias pakai seragam majelis lain atau pindah jalur! Maka saya merasa perlu untuk menambahkan satu syarat lagi bagi para calon pemimpin, yaitu adanya kesetiaan yang tinggi (loyalitas) terhadap perusahaan atau organisasi.

Demikianlah, semoga availabilitas menjadi tekad kita semua, danloyalitas menjadi tabiat kita yang sejati, demi terciptanya satu pengabdian yang benar-benar tulus dan bukan disertai pamrih!

Semoga para pembaca buletin/web MAGABUDHI ini senantiasa sukses dan berbahagia di dalam lindungan Tiratana, selamat mengabdi dengan tulus dan tiada henti, dan semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Jakarta, 2 November 2012, oleh: PMy. Upasanto Suwarto Atjing.