+6221 7076 2687 ppmagabudhi@yahoo.com

PESAN WAISAK 2560/2016

PESAN WAISAK 2560/2016

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammàsambuddhassa

Sabbā disā anuparigamma cetasā, Nevajjhagā piyataramattanā kvaci Evam piyo putthu attā paresam, Tasmā na himse param attakāmo’ti (Samyutta Nikāya I : 75)

Bila kita mengarungi dunia dengan pikiran, maka kita akan menemukan bahwa diri sendirilah yang paling dicintai. Karena tidak ada siapapun yang dicintai oleh seseorang selain dirinya sendiri, maka perhatikan dan hormatilah orang lain seperti kamu mencintai dirimu sendiri

Trisuci Waisak memperingati tiga peristiwa suci dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama, yaitu: kelahiran Siddhartha calon Buddha, pencapaian Pencerahan Sempurna Buddha, serta kemangkatan Guru Agung Buddha. Tiga peristiwa suci itu terjadi pada hari yang sama, yaitu hari purnama raya, bulan Waisak, dengan tahun yang berbeda-beda: kelahiran calon Buddha tahun 623 SM di Kapilavasthu, Nepal; Pencerahan Sempurna tahun 588 SM di Bodhgaya, India; dan Buddha mangkat tahun 543 SM usia 80 tahun, di Kusinara, India. Hari Trisuci Waisak 2560 tahun ini jatuh pada tanggal 22 Mei 2016. Seluruh umat Buddha di dunia memperingati Trisuci Waisak dengan laku puja bakti, meditasi, pendalaman Dhamma ajaran Buddha, serta kegiatan-kegiatan sosial-budaya Buddhis lain.

Cinta Kasih Penjaga Dunia, demikian tema Peringatan Trisuci Waisak 2560/2016. Sangha Theravada Indonesia memandang tema itu sangat relevan untuk dihayati dalam rangka menghadapi berbagai persoalan dunia dewasa ini, seperti dunia berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dunia Dewasa Ini

Kekerasan masih menjadi bagian dari dunia kehidupan dewasa ini, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam sosial masyarakat, bahkan kekerasan dalam kehidupan beragama pun membuat kita terhenyak, karena kekerasan itu dilakukan atas nama agama yang sebenarnya sama sekali bertentangan dengan ajaran agama tersebut. Mahatma Gandhi (1869-1948) menyatakan akar kekerasan adalah kekayaan tanpa bekerja, kesenangan tanpa hati nurani, pengetahuan tanpa karakter, perdagangan tanpa moral, ilmu tanpa kemanusiaan, ibadah tanpa pengorbanan, politik tanpa prinsip. Begitu banyak macam kekerasan dapat terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, sebagai suatu ekspresi perilaku individu ataupun kelompok orang secara fisik, verbal, maupun mental yang mencerminkan tindakan agresi dan penyerangan terhadap kebebasan dan martabat orang lain.

Buddha Gotama menasihati seorang bhikkhu yang keras kepala dan suka bertengkar dengan sesama bhikkhu: siapapun yang memendam kebencian di dalam dirinya dengan berpikir bahwa ia telah menyiksa diriku, ia telah memukulku, ia telah mengalahkanku, bahkan ia telah merampas barang-barang milikku, maka kebencian tidak akan lenyap dalam benak hatinya. Lebih lanjut Buddha Gotama mengatakan: dalam dunia ini, kebencian tidak akan berakhir dengan kebencian, kebencian hanya dapat dilenyapkan dengan cinta kasih, ini adalah kebenaran abadi. Mengapa masih ada orang-orang yang menyukai pertikaian? Karena masih banyak orang tidak mengerti, bahwa kita dapat binasa di dunia ini akibat dari perselisihan, ia yang memahami kebenaran ini, akan berusaha melenyapkan perselisihan, demikian penjelasan Buddha Gotama. Pada saat terjadi pertempuran antara Raja Kosala dengan Raja Ajatasattu di India, terjadi kekalahan Raja Kosala dan kemenangan bagi Raja Ajatasattu, Buddha memberi nasihat demikian: kemenangan menimbulkan kebencian, orang yang kalah hidup dalam kesedihan, orang dapat tenang dan damai batinnya apabila ia telah mengatasi kemenangan dan kekalahan. (Dhammapada: 3, 5, 6, 201)

Cinta Kasih sebagai Pencegah Kekerasan

Cinta kasih merupakan bahasa hati, bahasa dari hati ke hati. Cinta kasih adalah suatu kekuatan yang mengaitkan hati dengan hati untuk menyembuhkan dan menyatukan kita dalam kebersamaan yang sesungguhnya. Pikiran-pikiran cinta kasih yang sangat berkembang memiliki kekuatan magnetis yang dapat mempengaruhi dan menarik hati orang lain. Dengan cinta kasih kebahagiaan manusia bertambah, dunia menjadi lebih cerah, lebih mulia dan lebih suci, serta menciptakan kehidupan yang lebih baik. Cinta kasih merupakan pengharapan kesejahteraan dan kebahagiaan terhadap semua makhluk hidup, tanpa dibatasi oleh sekat apapun. Ia adalah sifat persaudaraan seorang teman yang penuh kebaikan. Cinta kasih merupakan sebuah kekuatan mental yang aktif, setiap tindakan cinta kasih dilakukan dengan pikiran untuk membantu, menolong, menghibur, membuat orang lain lebih mudah hidupnya, dan lebih mampu untuk mengatasi kesedihan.

Cinta kasih dikembangkan dengan jalan mempertimbangkan buruknya kebencian, dan manfaatnya membuang kebencian. Kebencian membatasi, cinta kasih membebaskan. Kebencian mencekik, cinta kasih melepaskan. Kebencian menimbulkan penyesalan, cinta kasih menghasilkan kedamaian. Kebencian bersifat menghasut, cinta kasih bersifat menenteramkan. Kebencian memecah belah, cinta kasih menyatukan. Kebencian mengeraskan, cinta kasih melembutkan. Kebencian menghalangi, cinta kasih menolong. Demikianlah kita dapat memahami dengan benar dan menyadari akibat dari kebencian dan manfaat cinta kasih, sebagai dasar dari pengembangan cinta kasih.

Cinta kasih berpasangan dengan welas asih, yaitu sifat luhur yang membuat orang mulia tergetar hatinya merasakan penderitaan. Welas asih ibarat seorang ibu yang pikiran, ucapan, dan perbuatannya berkeinginan menyingkirkan kesulitan hidup anaknya. Welas asih memiliki sifat tidak mampu membiarkan penderitaan terjadi pada orang lain dan merupakan manifestasi dari tanpa kekerasan. Welas asih dan kekerasan tidak dapat berdampingan, karena welas asih bersifat membangun sedangkan kekerasan bersifat merusak. Hati yang keras diatasi dengan welas asih. Welas asih menjiwai seluruh ajaran Buddha. Karena semua kebenaran ajaran Buddha memiliki welas asih sebagai dasarnya, sebagai pijakannya.

Semua makhluk menderita (dalam satu atau lain hal). Penderitaan bisa saja dalam bentuk fisik atau mental ataupun keduanya. Semua orang mengetahui apa itu penderitaan karena lapar, membutuhkan pakaian, tempat tinggal, karena penyakit, dan lain-lain. Kematian dapat terjadi pada semua orang. Maka, janganlah kita membuat penderitaan orang lain bertambah, tapi buatlah mereka yang bertengkar menjadi bersahabat, persatukan mereka yang tercerai berai, hindarilah kekerasan berilah kedamaian dan harmoni bagi siapapun juga yang berkehendak baik dalam menjalani hidup ini. Memperlakukan orang lain sama halnya dengan memperlakukan diri sendiri.

Selamat Hari Trisuci Waisak 2560/2016, marilah umat Buddha sekalian mengembangkan cinta kasih dan welas asih dalam hati sanubari masing-masing. Karena penerapan cinta kasih dan welas asih itulah yang pasti dapat menjaga dunia ini dari kehancuran akibat kekerasan. Dunia yang terjaga baik menjadi kondisi yang sangat kondusif bagi tumbuh berkembangnya salah satu nilai dari Revolusi Mental yang digagas oleh Bapak Presiden Joko Widodo, yaitu gotong royong dengan turunannya seperti kerjasama, solidaritas, komunal, kerelawanan, dan berorientasi kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Tiratana, selalu melindungi.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia

Kota Mungkid, 22 Mei 2016

SANGHA THERAVADA INDONESIA

ttd.

Bhikkhu Jotidhammo, Mahathera Ketua Umum / Sanghanayaka

Pdt. Dharmanadi Chandra Terpilih Menjadi Ketua Umum Magabudhi Periode 2016-2021

PC MAGABUDHI & WANDANI Tangerang Selatan melaksanakan Upacara Pattidana

PC MAGABUDHI Tangerang Selatan & WANDANI Tangerang Selatan telah sukses menyelenggarakan upacara Pattidana.  Upacara yang dilaksanakan di Cetiya Anurrudha tersebut berlangsung dengan hikmat dan penuh bhakti. Panitia secara khusus menyampaikan Anumodana kepada para donatur, Bhikkhu Sangha, Atthasilani, tim Paritta kota Tangerang Selatan yang telah ikut membacakan Paritta Avamanggala selama 7 malam dan panitia yang telah membantu terlaksananya upacara Pattidana tersebut.

Perlu diketahui bersama pula bahwa PC MAGABUDHI Tangerang selatan tersebut tidak hanya memenuhi kewajiban bhakti kepada leluhur dengan upacara pattidana tersebut tetapi juga telah melaksanakan bhakti sebagai organisasi telah menyetorkan dana pattidana tersebut 20 % ke pengurus pusat, sebuah pengabdian PC yang luar biasa dan tentunya sangat membantu untuk perkembangan Buddha-Dhamma.

LAKSANAKAN REVOLUSI MENTAL

MAGABUDHI_Semarang, 14 April 2016| Kepala Badan Kesbangpol & Linmas Propinsi Jawa Tengah Drs Achmad Rofai, Msi  menyatakan bahwa kegiatan untuk membina kerukunan umat beragama pada saat ini ditangani oleh Badan Kesbangpol & Linmas, karena masalah legalitas dari Kementrian Hukum dan HAM wajib dipenuhi sebagai salahsatu syarat kelembagaan. Olehkarena itu diharapkan kepada setiap ormas segera menyerahkan bukti legalitas termaksud untuk kelancaran kegiatan maupun pembinaan.

Hal ini dikemukakan Achmad Rofai pada pembukaan “Forkomkon Antar Umat Beragama dan Penghayat Kepercayaan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2016” pada 14 April 2016 siang di Riyadi Palace Hotel, Sala.

Lebih lanjut dikemukakan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi pada Gubernur Jateng agar Jawa Tengah akan tetap kondusif.

Sebagai awal seluruh acara dibacakan doa secara agama Islam oleh KH Jaelani, Katolik oleh Sidik Pramono, Kristen Protestan oleh Pendeta Amas Gunawan, Konghucu oleh Ws Purwani dan Buddha oleh Pandita D. Henry Basuki.

Pendeta Waras Widigdo selaku Sekretaris Forrum Keadilan dan Hak Azasi Umat Beragama (Forkhagama) menjelaskan bahwa kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Kesbangpol & Linmas Jateng bekerjasama dengan Forkhagama sebagai organisasi yang mengerti permasalahan membina kerukunan dan menyelesaikan permasalahan yang timbul antar umat beragama.

Pandita D. Henry Basuki, pemimpin agama Buddha dari MAGABUDHI sebagai salahseorang pendiri Forkhagama dalam ceramahnya mengemukakan bahwa midset ketidak rukunan sebenarnya dibentuk oleh penjajah dalam kurun waktu tiga setengah abad. Dengan politik adu domba demi kepentingannya, penjajah telah melakukan berbagai upaya agar terjadi perpecahan dalam masyarakat Nusantara. Secara local genius, nenekmoyang kita sebenarnya penuh toleransi, dapat menghargai adanya perbedaan, karena pada dasarnya masyarakat di Nusantara ini adalah majemuk.

Pola pikir penjajah telah demikian rupa meresap dalam masyarakat. Walau kita sudah cukup lama merdeka, namun pola pikir tersebut tetap tidak hilang karena dipelihara untuk kepentingan pihak-pihak yang tidak menginginkan kejayaan Indonesia.

Olehkarena itu, hendaknya sebagai pemimpin umat beragama kita melaksanakan revolusi mental. Mengedepankan nilai-nilai agama yang penuh kasih sayang,menyadari . bahwa kita tidak boleh hanyut pada pemikiran yang merusak persatuan. Tanpa tekad untuk tidak mau dihasut agar terjadi perpecahan, maka Indonesia yang bahagia sejahtera tidak akan terwujud.

Sudah waktunya pula kita tidak tinggal diam akan segala pelanggaran aturan agar supermasi hukum terlaksana dengan baik.

Sebagai penceramah, selain Pandita D. Henry Basuki, KH Jaelani dari Islam, Pendeia Waras Widigdo dan Romo Alexsios dari Kristen, Sujaelanto dari Hindu, Paulus Putoyo dari Katolik dan Ws Purwani dari Kongkucu.

Acara yang mengambil tema “Menuju Pembangunan Mental Bangsa Indonesia” berlangsung 2 hari ini diikuti oleh 50 pemimpin agama Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha dan Kongkucu dari seluruh wilayah ex Karisedenan Surakarta.

BEDAH BUKU BUDDHISTIS DI KAMPUS UNIVERSITAS KATOLIK

MAGABUDHI_Semarang, 16 Maret 2016 Sebuah buku berjudul “RATTA PRAHARN di Negeri Gajah Putih” 346 halaman, terbitan Kanisius Yogyakarta kurang dimengerti oleh kalangan umat Buddha walau isinya Buddhistis, ditulis oleh seorang mantan bhikkhu asal Muntilan.   Dalam bahasa Thai, Ratta Praharn berarti kudeta yaitu perebutan kekuasaan dari sebuah pemerintah yang ada. Di Thailand kudeta dilakukan oleh pihak militer dengan menggerakkan pasukan tentara.   Penulis buku ini, Teddy Prasetyo yang pada tahun 1970 dipabbajja, menjadi Samanera selama satu tahun agar bisa menyesuaikan hidup sebagai viharawan negeri di Thai, kemudian diupasampada tahun 1971 menjadi Bhikkhu Jeto di Wat Bovoranives oleh Somdet Pra Nyanasamvara. Ia berhasil menyelesaikan 3 vassa dengan acarya Phra Vidhurdhammaborn (Bhante Win) Teddy kembali hidup sebagai perumah tangga pada tahun 1975. Ketika peristiwa Kudeta 1976 yg merembet sampai penyerbuan ke Universitas Thamasat, dia masih menyelesaikan S2 di Mahidol University. Sebagai seorang Indonesia yang tinggal di Thailand lebih dari 40 tahun, penulis buku ini  tertarik untuk mempelajari dan kemudian menjelaskan tentang fenomena unik yang terjadi di sebuah negara tetangga sesama ASEAN.  Bermula penulis tinggal  di Wat Bovoranives untuk memperdalam pengetahuan tentang agama Buddha aliran Theravada, kemudian meneruskan pendidikan meraih gelar Master’s di Universitas Mahidol. Setelah itu bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia, kemudian meniti karir panjang pada sebuah badan pemerintah Amerika Serikat di Bangkok.  Selain menguasai bahasa Thai, penulis juga telah menjalin jaringan komunikasi yang luas dengan anggota masyarakat lokal dari berbagai lapisan dan berbagai bidang profesi. Buku ini disusun sedemikian rupa untuk memperkenalkan kepada pembaca Indonesia beberapa segi negara Thailand seperti pentingnya lembaga monarki, agama Buddha aliran Theravada, Angkatan Bersenjata Thailand, dan peranan media dalam percaturan politik. Selain itu, sejarah negara yang dahulu dinkenal dengan nama Siam juga dibahas dalam buku ini.  Penulis mempunyai harapan agar buku ini akan lebih memperluas pemahaman pembaca terhadap sebuah tetangga dekat yang memiliki watak kepribadian mirip dengan Indonesia. Pada 16 Maret 2016 siang buku “RATTA PRAHARN Di Negeri Gjah Putih” dibedah oleh Rotary Club Semarang  bekerjasama dengan Universitas Katolik Sugijapranata, mengambil tempat di Gedung Thomas Aquinas, kampus Universitas tersebut. Sebagai pembahas Benediktus Benny D.Setianto SH, LL.M, MIL dekan Fakultas Hukum dan Komunikasi Unika Sugijapranata dan Adi Joko Purwanto, SIP, MA, Ketua Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Wahid Hasyim, dengan moderator sastrawan Triyanto Triwikromo, redaktur senior Harian Suara Merdeka. Baik Benny Setianto maupun Adi Joko Purwanto menilai buku ini isinya beragam, baik mengenai agama Buddha, tata masyarakat, tata pemerintahan,, hukum dan politik. Walau oleh penulisnya sudah dijelaskan bahwa isinya bukan kajian ilmiah, namun sangat unik dan bermanfaat, Acara yang dibuka dengan pembacaan doa secara agama Buddha oleh Pandita D. Henry Basuki, sambutan oleh Cindy Bachtiar selaku Ketua Rotary Club Semarang Kunthi dan Donny Danardono,SH, Mag Hum, selaku Ketua Prodi Magister Lingkungan & Perkotaan Unika Sugijapranata ditutup dengan tanya jawab yang cukup menarik, antara lain tanggapan dari para mahasiswa muslim Thailand yang sedang menempuh study di Universitas Wahid Hasyim.