MAGABUDHI_Semarang, 18 Oktober 2015

Limapuluh tahun yang lampau, Gereja Katolik secara doktrinal, mengajarkan, mendorong dan meneguhkan semangat persaudaraan sejati lintas iman, lintas agama, dan lintas budaya melalui salah satu dokumen buah Konsili Vatikan II tersebut. Dokumen tersebut dinamakan Nostra Aetate.

Dalam Nostra Aetate juga disadari oleh Gereja Katolik bahwa “Sudah sejak dahulu kala hingga sekarang ini di antara pelbagai bangsa terdapat suatu kesadaran tentang daya-kekuatan yang gaib, yang hadir pada perjalanan sejarah dan peristiwa-peristiwa hidup manusia; bahkan kadang-kadang ada pengakuan terhadap Kuasa ilahi yang tertinggi atau pun Bapa.

Melalui paham demikian, Gereja Katolik tidak menolak semua agama dan kebudayaan yang ada di muka bumi ini. Entah itu agama-agama asli maupun agama-agama wahyu dan resmi yang diakui oleh Pemerintah maupun tidak, semua tidak ditolak oleh Gereja Katolik. Praktik-praktik keagamaan dan religiositas yang suci dan benar, mendapat penghargaan setinggi-tingginya dari Gereja Katolik dan tidak ditolak.

Sebagai wujud paham termaksud, pada Minggu pagi 18 Oktober 2015 di pelataran Gua Maria Kerep Ambarawa (masuk Kabupaten Semarang) dilaksanakan Gelar Budaya Lintas Iman. Sabtu sebelumnya (17/10) diselenggarakan Temu Kebatinan Katolik ke XXVIII

Hikmahbudhi Semarang mewakili Generasi Muda Buddhis berpendapat bahwa dalam Gelar Budaya ini salah satu cara untuk menyampaikan pemikiran lewat seni, salahsatunya adalah music yang disusun sedemikian rupa sehingga menyandang irama lagu dan harmoni. Musik adalah ekspresi dari sesuatu yang agung, musik adalah bahasa dunia, ia tidak perlu diterjemahkan, dalam berbicara kepada jiwa adalah janji atau jaminan akan hidup yang kekal abadi. Musik adalah suatu perwujudan yang lebih tinggi daripada segala budi dan filsafat.

Penampilan musik Paduan Suara Hikmahbudhi Semarang dibawah koordinasi Bodhi Setiawan (sekretaris PC) menampilkan 2 lagu, yaitu “Sungguh Indah” dan “Hadirkan Cinta”, Ditengah lagu dilantunkan puisi oleh Depi dan Metta. Pada akhir penampilan, anggota paduan suara turun panggung untuk membagikan bunga sebagai lambang cinta kepada para tokoh agama, tokoh masyarakat serta tamu undangan yang hadir, antara lain Pastor Aloys Budi Purnomo Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang.

Usai penampilan, Pandita D. Henry Basuki menyampaikan tanda mata sebagai wujud cinta dalam persaudaraan sejati kepada FX Bambang Gutama, Ketua Panitia Pelaksana.

“Sungguh Indah bila hidup saling mencinta, berbagi bahagia. Sungguh indah bila hidup saling mengerti dan hati penuh kasih. Dimana rasa benci sirna menjauh seiring berlalunya waktu. Hiduppun semakin terasa bermakna, walau hidup sesaat saja”.

Pagi hari sebelum Gelar Budaya, bersamaan waktunya dengan umat Katolik melaksanakan Misa, diarea Gua Maria Kerep Ambarawa seluruh anggota Hikmahbudhi melaksanaan Puja Bakti secara agama Buddha di tempat yang disediakan Panitia.

PP MAGABUDHIArtikel DhammaSebagai wujud paham termaksudMAGABUDHI_Semarang, 18 Oktober 2015 Limapuluh tahun yang lampau, Gereja Katolik secara doktrinal, mengajarkan, mendorong dan meneguhkan semangat persaudaraan sejati lintas iman, lintas agama, dan lintas budaya melalui salah satu dokumen buah Konsili Vatikan II tersebut. Dokumen tersebut dinamakan Nostra Aetate. Dalam Nostra Aetate juga disadari oleh Gereja Katolik bahwa “Sudah sejak...Tulus Mengabdi Tiada Henti