081312351976 ppmagabudhi@yahoo.com


MAGABUDHI_Kudus, 22 Maret 2015

“Sejak adanya tanah longsor yang merusak tempat tinggal serta tanah garapan, separoh umat Buddha di desa Rahtawu pindah ke Kalimantan”, demikian dikemukakan oleh PMd Sujata Suparkam, Ketua Dayaka Sabha Vihara Narada yang terletak di desa Rahtawu, lereng Barat Gunung Muria yang masuk Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus pada Minggu, 22 Maret 2015 pagi.

Sesepuh umat Buddha yang sudah berkiprah lebih empat puluh tahun ini selanjutnya menerangkan dihadapan Pandita D. Henry Basuki bahwa hal ini ditempuh karena trauma karena bencana yang terjadi tahun silam. Namun, dia juga bersyukur karena salah seorang pemimpin umat Buddha ikut transmigrasi ke sana, hingga tetap dapat menjaga kelangsungan dhamma di tanah seberang.

Ketika memberikan pembinaan serta motivasi dihadapan umat Buddha, Pandita D. Henry Basuki antara lain menjelaskan tentang bagaimana cara praktis melaksanakan Sila, Panna dan Bhavana dalam kehidupan sehari-hari. Dikatakan, umat seyogyanya secara rutin mempelajari dhamma walau hanya sedikit.Dengan demikian tidak usah membaca terlalu banyak sekaligus. Umpama isi kitab Dhammapada diambil salahsatu bagian saja setiap hari akan merupakan tuntunan dhamma yang bernilai.


Meresapi arti dhamma sangat penting, karena membaca bahkan hafal bagian dari kitab suci tanpa diresapi artinya, diibaratkan makan buah hanya kulitnya saja, bukan isinya.

Pada seksi tanya jawab, ada yang bertanya teknik pelaksanaan atthasila pada hari uposatha. Mengacu pada buku “Panduan Atthasila” tulisan Kusiani yang baru diterbitkan, maka pelaksanaan atthasila sangat dianjurkan untuk memelihara ketahanan hidup kita, karena kualitas hidup meningkat.

Juga dijelaskan bahwa melaksanakan sila dengan baik mendatangkan perlindungan diri yang mantap dan dahsyat. Bagi orang yang batinnya masih labil, penggunaan paritta guna mengusir ketakutan dan kesulitan hidup tidak ada salahnya. Dijelaskan juga pemakaian paritta untuk mengusir ketakutan akan “makhluk halus”, mengusir penyakit dls. Di luar paritta yang biasa dipergunakan dalam Tuntunan Puja Bakti sehari-hari, dianjurkan penggunaan Mora Paritta secara rutin pada pagi dan malam hari.

Pembinaan di Vihara NARADA dipandu oleh Ramani Ratana Pundarika Sunarti yang Ketua WANDANI Kab Kudus, sedangkan pembacaan paritta dipimpin oleh Ike Rani Susanti.

Dalam perjalanan pulang, Pandita D. Henry Basuki menyempatkan singgah Vihara Girikusala di dukuh Jambu, masih dalam wilayah Rahtawu.