081312351976 ppmagabudhi@yahoo.com
Meditasi Sarana Pembuktian adanya Kelahiran Kembali

Meditasi Sarana Pembuktian adanya Kelahiran Kembali

Oleh: YM. Uttamo Mahathera

Masalah kehidupan sering menjadi suatu teka-teki untuk kita. Kadang kita bertanya-tanya, sesungguhnya dari mana kita berasal? Dari mana datangnya, apakah kita muncul begitu saja? Ataukah ada sebab lain?
Ada banyak pendapat yang mengatakan bahwa kita dicipta.Tetapi seandainya kita lalu menanyakan kenapa saya dicipta menderita? Mengapa dia dicipta bahagia? Kenapa dia dicipta sehat dan saya dicipta sakit-sakitan? Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan demikian yang merupakan misteri kehidupan yang kalau hanya dijawab dengan “ciptaan” —bahwa semua ini adalah ciptaan— tentu hasilnya akan menumbuhkan ketidak-puasan, karena kita ingin tahu alasan yang lebih mendalam. Kalau kita hanya menjawab sampai pada penciptaan saja, tentunya berhenti tanpa ada kelanjutan lain.
Menurut pandangan agama Buddha, kita bisa berbeda-beda —lahir sehat atau lahir cacat, hidup dalam keluarga bahagia atau dalam keluarga menderita— ini semua karena karma atau perbuatan kita dalam kehidupan-kehidupan yang lampau. Buah kehidupan yang lampau itulah yang akhirnya kita rasakan dalam kehidupan ini, dalam bentuk kebahagiaan maupun penderitaan.
Hanya orang-orang yang mau berpikir lebih lanjut lagi kemudian akan bertanya, kalau kita menderita atau bahagia karena buah kehidupan yang lampau, ini tentunya akan sama halnya dengan mengatakan kita bahagia dan menderita karena ada yang menciptakan, karena nanti tidak akan bisa kita tanyakan lagi bagaimana bentuk kehidupan yang lampau itu.
Sehingga memang akhirnya kadang-kadang kita lalu terjebak ke dalam satu pandangan yang buntu. Kita hanya mengatakan kehidupan lampau. Atau kalau ditanya lagi bagaimana membuktikan kehidupan-kehidupan lampau, ya meditasi saja yang baik, tetapi cara bermeditasi untuk membuktikan kehidupan yang lampau itu tidak diberikan. Akhirnya orang lalu mengatakan ini sama saja dengan kasus “diciptakan” tadi.
Dalam pandangan Buddhis, memang sesungguhnya kita dapat melihat kehidupan yang lampau. Bahkan bukan hanya dalam satu kehidupan yang lampau saja, beberapa kali kehidupan yang lampau, sampai beratus-ratus kehidupan yang lalu pun kita bisa ingat.
Sarananya adalah meditasi. Meditasi menjadi hal yang penting dan pokok dalam menyelidiki kehidupan yang lampau karena meditasi merupakan pengembangan kesadaran. Pengembangan kesadaran ini dilakukan dengan meningkatkan konsentrasi pikiran.
Di dalam kehidupan kita sehari-hari, sering kita melakukan segala bentuk pekerjaan dengan kurang berkonsentrasi. Misalnya saja saat ini kita sedang duduk lalu kita bertanya pada diri sendiri, “sebelum duduk di sini, saya dari mana?”
Kita mungkin saja masih bisa menjawab, “Dari kamar”.
“Sebelumnya dari mana?”
“Kita dari ruang tamu”.
“Sebelumnya dari mana?”
“Pulang kuliah dari kampus”.
“Sebelumnya dari mana?”
Begitu seterusnya, sampai kita tidak ingat lagi kita ini sebenarnya hari ini mengerjakan apa atau hari ini dari mana saja.
Belum lagi kalau ditanya, “Tadi saya masuk ke kamar dari pintu depan, melangkah berapa langkah, kemudian masuk ke kamar dengan kaki kiri atau kaki kanan dulu? Kita sering sudah lupa sampai di sini.
Kelupaan kita ini jelas karena kita kurang menggunakan konsentrasi dalam melakukan kegiatan seperti tadi, mengendarai mobil, keluar dari kampus, kemudian di jalan, parkir mobil di rumah, masuk ke dalam rumah, masuk ke dalam kamar, kemudian keluar dari kamar, lalu duduk di kursi.
Oleh karena itu, kalau yang baru saja dilakukan sudah tidak kita ingat lagi, bagaimana kita bisa mengingat dengan tepat kejadian seminggu yang lalu, setahun, sepuluh tahun, seratus tahun, bahkan seribu tahun yang lampau sampai beberapa ribu tahun yang lampau?
Kalau sekarang kita mengembangkan kesadaran dengan melatih konsentrasi dalam meditasi, tujuan utama adalah berusaha menyadari segala sesuatu yang kita lakukan, menyadari segala sesuatu yang kita ucapkan, menyadari segala sesuatu yang kita pikirkan dengan kesadaran yang tidak terputus-putus tetapi merupakan kesadaran yang terus menerus pada saat duduk, berdiri, berjalan dan lain-lain.
Kesadaran yang terus-menerus ini akan menimbulkan daya ingat yang tajam. Misalnya kalau kita sedang berjalan —dan sadar sedang berjalan: kanan-kiri kanan-kiri kanan-kiri— masuk ke dalam rumah, ketika membuka pintu rumah kita sadar sedang membuka pintu rumah dan melangkah masuk kanan-kiri kanan-kiri. Kita akan tahu persis ketika ditanya orang, “Masuk rumah dengan kaki kanan atau kiri lebih dahulu?” Kita dengan penuh kesadaran dan penuh konsentrasi bisa mengatakan, “Saya masuk dengan kaki kanan dulu”. Ini adalah manfaat dari pengembangan kesadaran berdasarkan konsentrasi.
Sekarang apabila kita sudah terbiasa berkonsentrasi, terbiasa mengembangkan kesadaran dengan duduk diam bermeditasi setiap hari —yang dilatih secara rutin, pagi dan sore hari dalam waktu yang tertentu, misalnya masing-masing satu jam— pikiran akan terpusat pada satu objek pada saat duduk bermeditasi.
Kita sekarang berusaha memusatkan seluruh perhatian pada satu objek, yang pada umumnya adalah pernafasan. Kita berusaha menyadari masuk keluarnya nafas. Sewaktu duduk bermeditasi, kita mengucapkan kata “masuk” seirama dengan masuknya nafas, kita mengucapkan kata “keluar” seiring dengan keluarnya nafas. Sehingga di dalam batin kita yang ada hanyalah dua kata: “masuk” dan “keluar”, “masuk” dan “keluar”, sesuai dengan irama nafas kita secara alamiah.
Yang dimaksud dengan alamiah di sini adalah kita tidak mengatur nafas selama bermeditasi. Kita tidak perlu membuat nafas kita menjadi lebih cepat dari kewajaran atau menjadi lebih lambat atau menahan nafas. Tetapi kita perhatikan saja gerak nafas secara alamiah.
Ketika kita sedang memperhatikan masuk keluarnya nafas ini, pikiran kita sering menyimpang pada pekerjaan, kuliah, rumah tangga, pada problem-problem yang sedang kita hadapi saat ini, sehingga perhatian kita beralih dari pernafasan ke problem-problem yang harus kita hadapi.
Kita sebagai orang yang sedang berlatih meditasi harus cepat mengenali fenomena pikiran ini dan segera menarik kembali pikiran yang menyimpang tadi ke dalam objek kita, yaitu masuk keluarnya nafas. Semakin cepat kita menyadari menyimpangnya pikiran dari objek dan menarik kembali ke objek nafas berarti semakin bisa kita melatih meditasi. Akhir dari kemampuan bermeditasi pada tahap awal adalah selama selang waktu tertentu tersebut perhatian kita tetap bisa berkonsentrasi pada satu objek —yaitu nafas— tanpa menyimpang lagi untuk memikirkan hal-hal yang lain.
Bila sudah bisa memusatkan pikiran pada satu objek, maka kita sekarang bisa menguji sejauh mana hasil konsentrasi dan pengembangan kesadaran kita ini untuk digunakan melihat hal-hal yang telah pernah kita lakukan.
Ketika konsentrasi kita sudah tinggi, kita bertanya pada diri kita, “Sebelum bermeditasi kita melakukan apa?”
“Mandi”.
“Sebelumnya saya membaca buku, sebelumnya lagi membantu orang tua, dan seterusnya”.
Kita berusaha menguji daya ingat dengan bekal konsentrasi dan kesadaran yang telah dilatih selama meditasi ini untuk mengingat dengan cara mundur seperti itu.
Kalau kita sekarang lupa apa yang telah lakukan sejam yang lalu, berusahalah kembali mengembangkan kesadaran dan konsentrasi. Kemudian ulangi mengingat kembali, sebelum meditasi kita melakukan apa, demikian seterusnya. Sampai akhirnya mungkin daya ingat kita yang hanya bertahan untuk menyadari kehidupan kita satu jam yang lampau dapat dikembangkan menjadi dua jam yang lampau, tiga jam yang lampau, tiga hari, tiga bulan, tiga tahun yang lampau, lima, sepuluh, dua puluh tahun, seratus tahun, dua kehidupan yang lampau, sepuluh kehidupan yang lampau, demikian seterusnya.
Kuncinya yang terpenting adalah pertama: kita bisa bermeditasi dengan seluruh konsentrasi yang terpusat pada satu objek, dan yang kedua adalah kita menggunakan konsentrasi untuk berusaha mengadakan flash-back (melihat kehidupan yang lampau dengan cara sedikit demi sedikit, sedetik yang lalu, dua detik dan seterusnya) hingga kita bisa menyadari beberapa kehidupan yang lampau.
Kalau kita bisa menjalankan meditasi dan bisa berkonsentrasi serta mengembangkan kesadaran dengan baik dan benar, maka dengan teknik melihat dari satu detik, dua detik yang lampau sampai satu, dua tahun, satu kehidupan, dua kehidupan yang lampau ini, pasti bisa kita jalankan.
Yang penting adalah praktek, melaksanakan sedikit demi sedikit. Perlu diingat bahwa pada saat bermeditasi untuk tingkat awal, hendaknya kita jangan mempunyai satu pemikiran bahwa: apakah sekarang sudah saatnya kita bisa melihat kehidupan yang lampau? Kalau kita terlalu cepat mempunyai pikiran untuk melihat kehidupan yang lampau, maka akhirnya konsentrasi kita akan terpecah dan tidak mampu bermeditasi. Lebih baik pada tahap awal tujuan kita hanya memperhatikan nafas saja, kemudian target kita harus bisa memperhatikan nafas tanpa menyimpang dari objek itu selama itu barulah mengalihkan objek kita untuk mengadakan flash-back pada kehidupan kita.
Dengan cara demikian, maka akhirnya kita mulai bisa menyingkap kehidupan yang sekarang, yang kemarin, dan akhirnya bisa menyingkap kehidupan-kehidupan kita yang lampau. Kita bisa mengerti dengan jelas, kenapa saya lahir menderita, kenapa dia lahir bahagia, kenapa saya lahir sakit-sakitan sedangkan dia bisa lahir sehat.
Ternyata nanti di dalam pemutaran mundur (rewind) memori kehidupan kita ini akan terlihat jelas, yang menjadi sumber kita bahagia atau menderita sesungguhnya adalah perbuatan kita sendiri.
Oleh karena itu, sesungguhnya tumimbal lahir bukanlah tidak mungkin bisa dibuktikan. Yang penting ada kemauan untuk melatihnya. Bila kita malas, ogah-ogahan, gampang patah semangat, putus asa, sampai kapanpun kita tidak akan memiliki kemampuan untuk “melihat” kehidupan-kehidupan kita yang lampau.
Semoga cara atau teknik praktis ini dapat dipakai sehingga bisa membuahkan suatu hasil yang positif sesuai dengan keinginan kita untuk membuktikan adanya kelahiran kembali seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha. Apabila kita bisa membuktikan ajaran Sang Buddha ini, maka sesungguhnya keyakinan kita kepada ajaran Sang Buddha dengan sendirinya akan segera timbul jauh lebih besar dan lebih mantap dibandingkan yang kita miliki pada saat ini.

Sumber: https://tisarana.net/ceramah/meditasi-sarana-pembuktian-adanya-kelahiran-kembali-oleh-ym-bhikkhu-uttamo-mahathera/

Bhavana In Holiday II PD MAGABUDHI Provinsi Banten Berjalan Penuh Makna

Bhavana In Holiday II PD MAGABUDHI Provinsi Banten Berjalan Penuh Makna


Hari Minggu, 14 April 2019 pukul 08.00 – 17.00 WIB di Wisma Meditasi Siripada, Jl. Oliander I Jelupang, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Banten telah sukses diadakan Bhavana Ini Holiday II oleh PD MAGABUDHI Provinsi Banten.

Bertindak sebagai Ketua Panitia pada acara yang penuh makna ini adalah Upc. Megawati.

Acara ini dilaksanakan hanya untuk Pengurus dan anggota MAGABUDHI Provinsi Banten dan sebagai Pembimbingnya adalah YM. Hemadhammo Thera

Adapun Susunan Acara ini adalah sebagai berikut :
– Sambutan Ketua PD MAGABUDHI Prov Banten
– Namakara Patha dipimpin oleh Bhikkhu Sangha
– Pancasila ca Atthasila Aradhana dipimpin oleh PMy. Hemakumari
– Meditasi duduk, berjalan dan berdiri
– Tanya Jawab
– Amisa Puja kepada Bhikkhu Pembimbing dan Pengurus Wisma Meditasi Siripada
– Pattidana
– Namakara Patha oleh Bhikkhu Sangha
– Foto Bersama

Nah itulah susunan acara yang telah dilaksanakan dengan baik dan sukses

Bhavana In Holiday (BIH) untuk anggota MAGABUDHI khususnya di Provinsi Banten adalah salah satu program unggulan yang bertujuan untuk Praktek Meditasi khususnya untuk Pengurus dan Anggota MAGABUDHI sehingga bukan hanya sharing Dhamma tapi melakukan praktek langsung pengembangan batin sesuai dengan Buddha Dhamma yang dibimbing langsung oleh Bhikkhu STI yang kompeten dalam hal Bhavana ini. Sesuai namanya, Bhavana In Holiday dilakukan pada hari libur, dan agendanya adalah tiap 3 bulan sekali atau setahun 4 kali. 
Panitia pelaksananya juga dirotasi sesuai PC yg ada di Provinsi Banten. BIH kedua ini dilaksanakan oleh PC MAGABUDHI Kota Tangerang Selatan di Wisma Meditasi Siripada, sedangkan yang pertama di Vihara Isipatana, Kajangan, dilaksanakan oleh PC MAGABUDHI Kabupaten Tangerang. Utk yg ketiga, rencananya akan dilaksanakan oleh PC MAGABUDHI Kota Tangerang pada tgl 27 – 28 Juli 2019 yang akan datang.

Tujuan utama dari Bhavana In Holiday ini adalah praktek pengembangan batin sesuai Buddha Dhamma, sehingga dapat menambah keyakinan dan kebijaksanaan sebagai jalan utama menuju Pintu Kebahagiaan.

Kontributor : PMd. Surya Himawan, S.Pd.B – Ketua PC MAGABUDHI Kota Tangerang Selatan

VIPASSANA BHAVANA PRAKTEK HIDUP BERKESADARAN

VIPASSANA BHAVANA PRAKTEK HIDUP BERKESADARAN

Pada tanggal 18 sd 20 Januari 2019 Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI) Provinsi Jawa Barat telah menyelenggarakan Kegiatan Vipassana Bhavana Praktek Hidup Berkesadaran yang dibimbing oleh Bhante Thitayanno Maha Thera dan Bhante Pannanando Maha Thera. Kegiatan dilaksanakan di Eco Camp Jl. Dago Pakar Barat No. 3 Bandung. Dikuti oleh sebanyak 45 orang berasal dari Bandung, Garut, Bogor, Depok, Bekasi, Karawang, Cirebon, Cikarang dan satu orang dari Tangerang.

DalamPelaksanaannya, peserta menggunakan pakian atas putih dan bawah warna gelap atau sarung. Pada saat pelaksanaan peserta dilarang untuk berbincang-bincang dan menggunakan alat komunikasi. Semua peserta, melaksanakan Atthasila dan mengkonsumsi makanan vegetarian. Penggunaan fasilitas Akomodasi/konsumsi dibersihkan sendiri oleh peserta.

Semoga dengan berlangsungnya acara yang penuh manfaat ini dapat menambah kebajikan bagi para peserta untuk dapat mempraktekkan kehidupan sehari-hari penuh dengan kesadaran sehingga dapat tercapai kebahagiaan.

Berikut Dokumentasinya:

Sumber : PD MAGABUDHI JAWA BARAT

PESAN WAISAK 2560/2016


PESAN WAISAK 2560/2016

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammàsambuddhassa

Sabbā disā anuparigamma cetasā, Nevajjhagā piyataramattanā kvaci
Evam piyo putthu attā paresam, Tasmā na himse param attakāmo’ti
(Samyutta Nikāya I : 75)

Bila kita mengarungi dunia dengan pikiran,
maka kita akan menemukan bahwa diri sendirilah yang paling dicintai.
Karena tidak ada siapapun yang dicintai oleh seseorang selain dirinya sendiri,
maka perhatikan dan hormatilah orang lain seperti kamu mencintai dirimu sendiri

Trisuci Waisak memperingati tiga peristiwa suci dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama, yaitu: kelahiran Siddhartha calon Buddha, pencapaian Pencerahan Sempurna Buddha, serta kemangkatan Guru Agung Buddha. Tiga peristiwa suci itu terjadi pada hari yang sama, yaitu hari purnama raya, bulan Waisak, dengan tahun yang berbeda-beda: kelahiran calon Buddha tahun 623 SM di Kapilavasthu, Nepal; Pencerahan Sempurna tahun 588 SM di Bodhgaya, India; dan Buddha mangkat tahun 543 SM usia 80 tahun, di Kusinara, India. Hari Trisuci Waisak 2560 tahun ini jatuh pada tanggal 22 Mei 2016. Seluruh umat Buddha di dunia memperingati Trisuci Waisak dengan laku puja bakti, meditasi, pendalaman Dhamma ajaran Buddha, serta kegiatan-kegiatan sosial-budaya Buddhis lain.

Cinta Kasih Penjaga Dunia, demikian tema Peringatan Trisuci Waisak 2560/2016. Sangha Theravada Indonesia memandang tema itu sangat relevan untuk dihayati dalam rangka menghadapi berbagai persoalan dunia dewasa ini, seperti dunia berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dunia Dewasa Ini

Kekerasan masih menjadi bagian dari dunia kehidupan dewasa ini, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam sosial masyarakat, bahkan kekerasan dalam kehidupan beragama pun membuat kita terhenyak, karena kekerasan itu dilakukan atas nama agama yang sebenarnya sama sekali bertentangan dengan ajaran agama tersebut. Mahatma Gandhi (1869-1948) menyatakan akar kekerasan adalah kekayaan tanpa bekerja, kesenangan tanpa hati nurani, pengetahuan tanpa karakter, perdagangan tanpa moral, ilmu tanpa kemanusiaan, ibadah tanpa pengorbanan, politik tanpa prinsip. Begitu banyak macam kekerasan dapat terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, sebagai suatu ekspresi perilaku individu ataupun kelompok orang secara fisik, verbal, maupun mental yang mencerminkan tindakan agresi dan penyerangan terhadap kebebasan dan martabat orang lain.

Buddha Gotama menasihati seorang bhikkhu yang keras kepala dan suka bertengkar dengan sesama bhikkhu: siapapun yang memendam kebencian di dalam dirinya dengan berpikir bahwa ia telah menyiksa diriku, ia telah memukulku, ia telah mengalahkanku, bahkan ia telah merampas barang-barang milikku, maka kebencian tidak akan lenyap dalam benak hatinya. Lebih lanjut Buddha Gotama mengatakan: dalam dunia ini, kebencian tidak akan berakhir dengan kebencian, kebencian hanya dapat dilenyapkan dengan cinta kasih, ini adalah kebenaran abadi. Mengapa masih ada orang-orang yang menyukai pertikaian? Karena masih banyak orang tidak mengerti, bahwa kita dapat binasa di dunia ini akibat dari perselisihan, ia yang memahami kebenaran ini, akan berusaha melenyapkan perselisihan, demikian penjelasan Buddha Gotama. Pada saat terjadi pertempuran antara Raja Kosala dengan Raja Ajatasattu di India, terjadi kekalahan Raja Kosala dan kemenangan bagi Raja Ajatasattu, Buddha memberi nasihat demikian: kemenangan menimbulkan kebencian, orang yang kalah hidup dalam kesedihan, orang dapat tenang dan damai batinnya apabila ia telah mengatasi kemenangan dan kekalahan. (Dhammapada: 3, 5, 6, 201)

Cinta Kasih sebagai Pencegah Kekerasan

Cinta kasih merupakan bahasa hati, bahasa dari hati ke hati. Cinta kasih adalah suatu kekuatan yang mengaitkan hati dengan hati untuk menyembuhkan dan menyatukan kita dalam kebersamaan yang sesungguhnya. Pikiran-pikiran cinta kasih yang sangat berkembang memiliki kekuatan magnetis yang dapat mempengaruhi dan menarik hati orang lain. Dengan cinta kasih kebahagiaan manusia bertambah, dunia menjadi lebih cerah, lebih mulia dan lebih suci, serta menciptakan kehidupan yang lebih baik. Cinta kasih merupakan pengharapan kesejahteraan dan kebahagiaan terhadap semua makhluk hidup, tanpa dibatasi oleh sekat apapun. Ia adalah sifat persaudaraan seorang teman yang penuh kebaikan. Cinta kasih merupakan sebuah kekuatan mental yang aktif, setiap tindakan cinta kasih dilakukan dengan pikiran untuk membantu, menolong, menghibur, membuat orang lain lebih mudah hidupnya, dan lebih mampu untuk mengatasi kesedihan.

Cinta kasih dikembangkan dengan jalan mempertimbangkan buruknya kebencian, dan manfaatnya membuang kebencian. Kebencian membatasi, cinta kasih membebaskan. Kebencian mencekik, cinta kasih melepaskan. Kebencian menimbulkan penyesalan, cinta kasih menghasilkan kedamaian. Kebencian bersifat menghasut, cinta kasih bersifat menenteramkan. Kebencian memecah belah, cinta kasih menyatukan. Kebencian mengeraskan, cinta kasih melembutkan. Kebencian menghalangi, cinta kasih menolong. Demikianlah kita dapat memahami dengan benar dan menyadari akibat dari kebencian dan manfaat cinta kasih, sebagai dasar dari pengembangan cinta kasih.

Cinta kasih berpasangan dengan welas asih, yaitu sifat luhur yang membuat orang mulia tergetar hatinya merasakan penderitaan. Welas asih ibarat seorang ibu yang pikiran, ucapan, dan perbuatannya berkeinginan menyingkirkan kesulitan hidup anaknya. Welas asih memiliki sifat tidak mampu membiarkan penderitaan terjadi pada orang lain dan merupakan manifestasi dari tanpa kekerasan. Welas asih dan kekerasan tidak dapat berdampingan, karena welas asih bersifat membangun sedangkan kekerasan bersifat merusak. Hati yang keras diatasi dengan welas asih. Welas asih menjiwai seluruh ajaran Buddha. Karena semua kebenaran ajaran Buddha memiliki welas asih sebagai dasarnya, sebagai pijakannya.

Semua makhluk menderita (dalam satu atau lain hal). Penderitaan bisa saja dalam bentuk fisik atau mental ataupun keduanya. Semua orang mengetahui apa itu penderitaan karena lapar, membutuhkan pakaian, tempat tinggal, karena penyakit, dan lain-lain. Kematian dapat terjadi pada semua orang. Maka, janganlah kita membuat penderitaan orang lain bertambah, tapi buatlah mereka yang bertengkar menjadi bersahabat, persatukan mereka yang tercerai berai, hindarilah kekerasan berilah kedamaian dan harmoni bagi siapapun juga yang berkehendak baik dalam menjalani hidup ini. Memperlakukan orang lain sama halnya dengan memperlakukan diri sendiri.

Selamat Hari Trisuci Waisak 2560/2016, marilah umat Buddha sekalian mengembangkan cinta kasih dan welas asih dalam hati sanubari masing-masing. Karena penerapan cinta kasih dan welas asih itulah yang pasti dapat menjaga dunia ini dari kehancuran akibat kekerasan. Dunia yang terjaga baik menjadi kondisi yang sangat kondusif bagi tumbuh berkembangnya salah satu nilai dari Revolusi Mental yang digagas oleh Bapak Presiden Joko Widodo, yaitu gotong royong dengan turunannya seperti kerjasama, solidaritas, komunal, kerelawanan, dan berorientasi kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Tiratana, selalu melindungi.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia

Kota Mungkid, 22 Mei 2016

SANGHA THERAVADA INDONESIA

ttd.

Bhikkhu Jotidhammo, Mahathera
Ketua Umum / Sanghanayaka